Minggu, 17 Juni 2012

Aku Bukan Kim Yoon Hye (lanjutan)


Yoon Hye berlari kencang. Ia teringat kembali pada perkataan guru Ah Jung. “Tadi ada seorang wanita muda berpakaian hitam dating kemari. Ia menanyakan tentang kau dan Ibu mu. Lebih baik, kau segera cepat pulang. Ibu, takut terjadi sesuatu. Sebenarnya Ibu tidak boleh memberitahukan ini padamu, tapi Ibu tidak bisa merahasiakan ini darimu, Yoon Hye”. Langit pun berubah menjadi gelap gulita. Setitik demi setitik hujan turun perlahan. Yoon Hye sempat terjatuh namun dia bangkit kembali. “I…Ibu!” teriaknya keras. Tak lama sampailah ia di rumah segera ia buka pintu dengan keras. “Ibu, Ibu, Ibu…” Yoon Hye melihat Ibu duduk terdiam berhadapan dengan seorang wanita muda yang berpakaian hitam. “Yoon Hye, kau sudah pulang. Kau kehujanan ya? Ayo, cepat ganti baju nanti kau kedinginan”, kata Ibu dengan suara lembut. “dia siapa, Bu?” Tanya Yoon Hye sambil menunjuk kea rah gadis tersebut. “Oh, dia pengawal Chee. Ayo cepat ganti baju”, suruh Ibu lagi. “Pengawal? Untuk apa dia kemari?” Yoon Hye lalu mendekati wanita tersebut. “Kau ada perlu apa kemari? Kau dari mana?” Tanya Yoon Hye. “Aku dari kerajaan Inggris. Aku diutus oleh Ratu untuk dating kemari”, jawabnya lembut. “Inggris? Ratu? Kau berbohong ya?” Tanya Yoon Hye lagi. “Sudah Yoon Hye! Lebig baik kau ganti baju dulu”, ajak Ibu. “Aku tidak mau. Aku berlari-lari kemari karena Ibu Guru Ah Jung bilang wanita ini dating ke sekolah dan bertanya banyak hal tentangku”, cerita Yoon Hye. Ibu lalu terdiam. “Aku betul-betul dari Inggris”, jawab Baek Hae Won lagi. “Aku tidak percaya, aku ini mengenal Inggris bahkan aku fasih berbahasa Inggris. Jangan berbohong”, Yoon Hye tertawa. “Yoon Hye, hentikan tawamu”, perintah Ibu. “Loh, memang kenpa Bu? Aku hanya geli mendengar perkataan kakak ini”, kata Yoon Hye lagi. Gadis itu mengeluarkan stempel Kerajaan dan juga surat dari sang ratu. “Aku tidak bisa menunngu lagi. Nona Kim Yoon Hye, anda harus ikut saya ke Inggris!” jelas pengawal Chee. Yoon Hye tertawa geli. “Hey, aku tahu kau, sekarang mengetahui bahwa aku penggemar Inggris dan bermimpi untuk kesana. Tapi kaka pengawal, ini sungguh tidak lucu! Jangan berbohongseperti ini! Aku bukan anak kecil lagi”, jawab Yoon Hye. “Aku tidak sama sekali bercanda, alas an aku mengapa datang untuk menjemput Putri Pangeran Richard yaitu anda, Nona Kim Yoon Hye”, jelas pengawal lagi. “Hahaha, kau benar-benar penipu yang ulung goda Yoon Hye. “Yoon Hye, pengawal Chee benar kau Putri Pangeran Richard”, kata Ibu tenang. Yoon Hye berhenti tertawa. “Apa? Ibu berbohong kan?”, tanyaku. “Tidak, Ibu benar-benar serius. Kau anak dari Putri Pangeran Inggris”, jawab Ibu lagi. “Apa Putri Pangeran Inggris? Ibu, Ibu jangan bercnada seperti ini, tidak lucu sama sekali”, suara Yoon Hye meninggi. Ibu member kode pada pengawal Chee untuk meninggalkan mereka. Dan akhirnya mereka tinggal berdua saja. “Yoon Hye, anak Ibu, kau suka sekali Inggris kan?” Tanya Ibulembut. “Iya, bu.. tapi ini sama sekali tidak lucu”, suara Yoon Hye terdengar sendu. “Dengar, Ibu saying padamu, Ibu tidak mungkin berbohong. Kau benar-benar Putri sah dari pangeran Inggris Richard, nak”. Kini air mata Ibu mulai menetes. “I..Ibu, aku, aku….” Yoon Hye pun menangis. Sore itu hujan lebat terus mendatangi kota Seoul tanpa henti.
***
“Kim Yoon Min, kau memang gadis korea yang pandai” puji seorang wanita paruh baya tersebut. Yoon Min tersenyum. “Putraku, sangat mencintaimu, tapi…. Dia tidak bisa memilikimu. Seandainya kau terlahir sebagai seorang Putri Bangsawan, kau pasti bisa memilikinya. Yoon Min pergilah dan jagalah dirimu baik-baik”, ujarnya lagi. “Ratu aku akan selalu berdo’a untuk kebahagiaan Richard dan Alice. Semoga mereka hidup bahagia”, kata Yoon Min. “Kau pasti sedih, betulkan Yoon Min!” kini sang Ratu menghadap wajahnya pada Yoon Min. “A…Aku baik-baik saja, siapalah aku? Aku hanya seorang gadis beruntung yang dapat mengenal Ratu dan Pangeran”, jawabnya. “Berjanjilah Yoon Min, jika samapi kau melahirkan anak dari buah cintamu dengan Richard. Serahkan dia padaku”, Yoon Min terkejut mendengar perkataan sang Ratu. “Ra…Ratu”, ujarnya. “Aku tahu Yoon Min, aku selalu tahu…”
***
“Yoon Hye”, Yoon Hye segera menoleh kea rah sumber suara. “Hye Mi, Chae Rim”, katanya. Mereka lalu berpelukan. “Kau jahat Yoon Hye, kau jahat”, seru Hye Mi. “Ku dengar dari Ibu Ah Jung, kau….kau mau pergi”, ujar Chae Rim. “Teman-teman, aku tidak akan pergi lama kok”, Yoon Hye berusaha menghibur. “Bohong, kau pasti akan selamanya disana, tidak mungkin hanya sebentar”, seru Chae Rim. “Yoon Hye, aku emang suka kesal jika kau mendapat nilai seratus dalam setiap pelajaran tapi aku tidak akan pernah mau berpisah denganmu”, Hye Mi mulai menangis. Aku sedih melihat mereka menangis. “Sudahlah, teman-teman jangan kalian menangis”. “Yoon Hye”. Aku lalu meliihat kak Yi Soo sudah berdiri didepanku. “Kak Yi Soo”.
***
“Jadi, anak itu sudah mengerti. Lalu kapan kau akan kembali”, seorang wanita paruh baya dengan menggunakan baju tidur sedang berbicara melalui telepon. Hari telah larut, namun dia belum tidur. Meski dia sudah cukup tua, namun dia terlihat tetap cantik walau tanpa baju kerajaan dan mahkotanya. “Iya, Ratu. Kami akan kembali lusa karena besok pagi kami berangkat”, ujar lawan bicara sang Ratu tersebut. “Baiklah kalau begitu. Ingat berhati-hatilah dan jangan samapi ketahuan”, tegas sang Ratu. Lalu ia menutup teleponnya. Ratu pun tersenyum dan memegang dadanya. “Ratu, apa dada anda sakit lagi? Apa perlu saya panggilkan Dokter. Araid?” Tanya sang tangan kanannya. “Tidak, tidak perlu aku sekarang sudah sembuh, cucuku akan segera kembali, Mr. Will”, lalu Ratu tersenyum bahagia.
***
“Kudengar kau akan pergi ke Inggris”, Tanya Kak Yi Soo. Sekilas ku lihat wajah Kak Yi Soo namak sedih. “Aku pun menganggguk. Kini kami hanya berdua saja. Sinar mentari pagi itu membuat ku nyaman berjalan-jalan diluar. “Yoon Hye”, langkah Kak Yi Soo terhenti. Aku menoleh padanya dan menunggu ucapannya. “Jujur saja, sebenarnya dari dulu aku ingin berbicara seperti ini dengan mu. Tapi… aku selalu tidak punya keberanian. Dan menurutku, inilah saatnya aku harus berbicara denganmu”, ucap Kak Yi Soo. Matanya menatapku tajam. “Kak, aku juga ingin berbicara seperti ini denganmu. Tapi, aku juga tidak pernah punya keberanian”, ujar Yoon Hye. Kurasakan semelir anginmenyapu rambutku. Tak lama Kak Yi Soo memegang tanganYoon Hye. “Yoon Hye, kau…kau akan kembali kan?” tanyanya padaku. Entah mengapa hatiku sedih melihat Kak Yi Soo melakukan hal ini padaku. Aku lalu mengambil sesuatu dari saku Rokku dan ku berikan padanya. “Kakak, ini koleksi pertamaku. Walau hanya sebuah pin bergambar bendera Inggris. Aku sangat mengahargai dan menyayanginya. Maukah kakak menyimpan ini untukku dan menungguku.karena aku akan selalu menunggu kakak. Jika nanti kita bertemu tunjukkanlah pin ini padaku kak”, ucap Yoon Hye. Yi Soo lalu mengambil pin itu dan menyimpannya dan aku akan menyusulnya dan ketika aku bertemu denganmu aku akan menunjukkannya padamu.aku berjanji Yoon Hye”, kata Yi Soo lembut. Yoon Hye tersenyum. “Terima kasih, kak”, ujarnya. Melepaskan pegangan tangan Kak Yi Soo. “Aku harus pergi”, lalu bernajak pergi. Di dalam hati Yoon Hye sedih harus meninggalkan Kak Yi Soo. “Ini adalah pertemuanku yang pertama dengannya, tapi kenapa sesedih ini?” Yoon Hye pun berlari pergi. “Kim Yoon Hye”, ujar Kak Yi Soo lembut.

 ini lanjutannya please enjoy :)

Aku Bukan Kim Yoon Hye


“Bangun Yoon Hye, ayo bangun anak nakal“ ku dengar suara Ibu memanggilku sambil membuka jendela kamar. “Yoon Hye, lihat sudah siang, matahari sudah ada di tengah. Apa kau tidak mau sekolah?” ujarnya sambil menarik-narik selimutku. “Ah Ibu, aku masih mengantuk”, ujarku menarik kembali selimut bergambar bunga lily tersebut. Ibu mensengus sejenak. “Baik  jika itu keinginanmu, Ibu akan membakar saja semua karikatur inggris yang baru saja dating itu”. Ibu pun keluar dari kamar. “Hah, karikatur? Apa sudah dikirim pikirku langsung keluar kamar dengan cepat menyusul Ibu. “Ibu, ibu, jangan dibakar dulu, Ibu “Kulihat Ibu tersenyum menatapku. “Hmm, kau ini benar-benar, hanya mau keluar dari kamar jika Ibu mengancam? Dasar anak nakal, cepat mandi nanti kau telat ke sekolah”, perintahnya lalu pergi menuju dapur. “Ibu, aku…… “Tanya Yoon Hye lalu terpotong oleh teriakan ibu yang memanggil namanya.
***
“Wah, bagus sekali Bu, kapan ini sampai?” Tanya ku sambil memakan kimichi kesukaan ku. “Tadi pagi, waktu Ibu sedang memasak. Yoon Hye, cepat habiskan kimichi mu! Nanti kau terlambat”, kata Ibu sambil memotong-motong daging asap. “Ibu, Negara Inggris itu pasti bagus sekali, karikaturnya saja sangat indah apalagi jika aku bisa kesana, betulkan. Wah, senangnya belum lagi ke Istana Ratu Elisabet V yang sedang memimpin sekarang. Pasti keren”, ujar Yoon Hye sambil terkekeh. Ibu menjatuhkan pisaunya, ku lihat raut wajah Ibu berubah. Ini kesekian kalinya ku lihat raut wajah Ibu berubah jika aku membicararakan Inggris, apalagi Istananya. “Ibu, apa Ibu baik-baik saja?” Tanya ku cemas. “Yoon Hye, ayo kita berangkat!”. “Nanti kita terlambat Yoon Hye, cepat” ke dengar suara teman-teman ku memanggil. “Yoon Hye, cepat berangkat! Kasihan teman-teman mu sudah menunggu” kata Ibu sambil merapikan meja makan dan member ku kotak makanan. Aku pun bergegas, sebelum keluar aku sempat menatap Ibu kembali terdiam. Entah apa yang dia pikirka, yang pasti itu masalah yang rumit.
***
“Hey Yoon Hye, kenapa dari tadi pagi kau melamun terus?” Tanya Hye Mi. “Iya betul. Kau kenapa?” ujar Chae Rim sambil menyeruput minumannya. “Ah, tidak aku baik-baik saja” jawab ku pada mereka. “Tapi raut wajah mu tidak mengatakan kau baik-baik saja?” Tanya Chae Rim lagi. “Jangan-jangan kau sedang memikirkan Yi Soo ya?” teriak Hye Mi kencang. “Apa?Yi Soo?” ekspresi wajah ku berubah. “Wah sepertinya tebakan mu benar Hye Mi! Wah, kau hebat sekali Yoon Soo!” goda Chae Rim pada ku. “Apa?Yoon Soo? Kau ini apa-apaan sih Chae Rim” ujar Yoon Hye tersipu malu. “Siapa yang memikirkan Yi Soo?Apa kau Yoon Hye?. Aku terkejut tiba-tiba di depan ku berdiri Eon Joo adik kelas di bawah ku 1 Tahun. Dia penggemar berat ku selalu muncul di mana pun tak pernah terduga. Dia berkali-kali mengatakan bahwa dia mencintaiku, tapi aku selalu menolak. Dia kan hanya bocah ingusan. “Aduh, Eon Joo sedang apa kau disini? Mengganggu saja!” teriak Hye Mi. “Diam kau, hei, apa kau benar memikirkan Yi Soo, Yoon Hye?” Tanyanya dengan menatpaku. Entah mengapa bibirku sulit untuk berkata-kata. Aku melihat di balik kacamatanya yang bulat dan tebal terdapat sepasang bola mata yang menusuk tajam ke arahku. “ Hei, kau ini hanya adik kelas, bisa tidak untuk tidak ikut campur?” Seru Chae Rim. “Sudahlah lebih baik kita tinggalkan saja dia. Ayo teman-teman” pinta ku sambil menarik mereka pergi. “Yoon Hye, sampai mati pun aku akan tetap mencintaimu! Kau dengar itu!” teriak Eoh Joo. Aku langsung berlari kencang meniggalkan Hye Mi dan Chae Rim.
***
Sepasang langkah kaki terdengar di kejauhan. Bukan hanya sepasang. Tetapi brpuluh-puluh pasang. Bunyi pintu terbuka terdengar perlahan. Lampu-lmapu ruangan semua telah dimatikan. Namun hanya satu lampu berbentuk bunga lily tetap menyala terang. “Nyonya Besar, anda memanggil kami” Tanya seorang perempuan cantik yang berwajah oriental. “Itu betul, aku punya tugas penting untuk kalian cari dan temukan. Lalu bawa dia pulang” jawab perempuan setengah baya yang sedang berdiri menghadap ke jendela sambil memegang bunga lily ungu. “Isatana ini begitu hampa tanpa tawa dan tangisan seorang gadis . Aku rindu padanya” jawab perempuan itu sendu. “Dia di seoul……”
***
“Apa? Kau dapat nilai seratus lagi?” Tanya Hye Mi tidak percaya. “Bukankah itu wajar? Justru aneh Yoon Hye tidak dapat nilai seratus! Selamat ya, kau memang sangat hebat”, ujar Chae Rim. “Ah, biasa saja Chae Rim”, ujarku malu. “Kau ini, selalu dapat nilai seratus! Apa semua dalam otakmu ini Inggris ya?” Tanya Hye Mi seraya memukul kepalaku. “ Sakit, bodoh! Aku juga tidak tahu”. Kenapa di otakku hanya ada Ingris, tidak yang lain”. Ujar Yoon Hye sambil mengelus kepalanya yang dipukul Hye Mi. “Oh, iya aku sampai lupa, kalau tidak salah waktu tadi aku ke toilet, ku dengar Yii Soo juga suka Inggris. Ia sekarang sedang sibuk denga tugas membuat peta Negara yang disukai”, Jelas Chae Rim panjang lebar. Aku langsung senang sekali, au tak menyangka kami punya persamaan. “Yoon Hye..” aku menoleh kea rah suara yang memanggilku. “Ibu guru?ada apa?”
***
Tok… tok…tok suara pintu diketok. “Iya, tunggu sebentar!” Ibu langsung membuka pintu. Betapa terkejutnya Ibu, sekitar sepuluh orang lebih berseragam warna hitam berdiri depan Ibu. “Selamat pagi, map apa ini rumah Kim Yoon Min?” Tanya satu-satunya gadis yang berpakaian hitam. “Oh, iya. Ada apa?” jawab Ibu terbata-bata. “Aku Baek Hae Won, biasa dipanggil pengawal Chee. Kedatangan ku kesini dalam rangka untuk memenuhi tugas sang Ratu”, jelasnya. Ibu tersungkur ke lantai. Wajahnya berubah sepucat kertas. “Apa?Apa kau bilang?” tanyanya sambil gemetar. “Kami dating kesini untuk menjemput cucu Elisabet V yaitu Kim Yoon Hye. “Yoon, Yoon Hye….” Suara Ibu gemetar. “Kebetulan kami membawa surat dari sang ratu” seraya menyerahkan surat tersebut. Ibu mengambil surat itu dengan gemetar. “Ra…Ratu…”
***

thanks dah dibaca please comentt :)

Kamis, 01 Maret 2012

Foto Perdana Ha Ji won dan Lee Seung Gi di Serial Baru 'The King 2 Hearts' 28 Feb 2012 16:06:12 WIB

Ha Ji Won dan Lee Seung Gi tampak bersikap dingin satu sama lainnya dalam balutan busana militer mereka.
WowKeren.com - Setelah berbagai kabar mengenai pergantian pemeran utama, plot cerita serta judulnya, kini serial "The King 2 Hearts" resmi memulai syutingnya. Baru-baru ini foto perdana serial tersebut beredar.

Foto itu menunjukkan pertemuan pertama antara kedua bintang utamanya, ("Secret Garden"-2010) dan ("My Girlfriend Is a Gumiho"-2010). Menariknya, dalam foto itu keduanya tampil maskulin dalam balutan busana militer.

Di adegan tersebut, Ha Ji Won dan Lee Seung Gi terlihat bersikap dingin satu sama lainnya. Dalam serial itu, Ha Ji Won diceritakan sebagai pimpinan pasukan khusus Korea Utara. Sedangkan Lee Seung Gi berperan menjadi sosok pria Korea Selatan yang manja.

"Itu adalah pertemuan pertama Lee Seung Gi dan Ha Ji Won, tapi keduanya bisa bekerja sama dengan harmonis," ujar pihak produksi serial tersebut. "Mereka juga mendapat pujian dari produser Lee Jae Kyu. Jangan lewatkan kisah mereka."

Sebelumnya peran Lee Seung Gi sempat ditawarkan pada  dan  yang akhirnya memutuskan menolak. Alur cerita cinta dan tokoh dalam serial ini juga sempat berganti-ganti sebelum diputuskan peran Ha Ji Won adalah sebagai pimpinan pasukan dari Korea Utara. (wk/rs)

Bocoran Drama Lee Seung-gi dan Ha Ji-won Yang Akan Datang






indosiar.com. Stasiun televisi terkemuka Korea MBC belum lama ini merilis beberapa foto para pemain yang sedang membaca skenario untuk drama yang akan datang, King 2hearts (judul semula The King). Drama ini dibintangi sederet bintang beken yang sangat dikenal di Indonesia, yaitu Lee Seung-gi, Ha Ji-won, Lee Yoon-ji, Yoon Jae-moon dan Jung Suk.

Drama King 2hearts yang mengambil setting Korea Selatan modern namun masih berbentuk kerajaan ini mengisahkan pernikahan yang diatur antara Putra Mahkota kerajaan Korea Selatan, Pangeran Lee Jae-ha (Lee Seung-gi) dan wanita anggota pasukan khusus Korea Utara, Kim Hang-ah (Ha Ji-won).

Dalam foto-foto yang dirilis MBC itu, tim produksi dan para pemain walau telah melewatkan waktu lima jam terlihat tetap bersemangat dalam menganalisa karakter-karakter King 2hearts. Seorang juru bicara rumah produksi drama tersebut, Kim Jong Hak Productions mengatakan Lee Seung-gi, Ha Ji-won dan kasting lain bertekad mengeluarkan kemampuan sebaik-baiknya dalam membintangi drama itu.

Drama King 2hearts rencananya akan tayang perdana pada 14 Maret 2012 mendatang, begitu drama yang sedang hit di Korea, The Moon that Embraces the Sun yang dibintangi aktris Han Ga-in, Kim Soo-hyun dan Jung Il-woo selesai ditayangkan di MBC.

Senin, 27 Februari 2012

My Favorite


Aktris Ha Ji Won Terlihat Sedang Syuting Acara ‘Running Man’!

Aktris Ha Ji Won baru-baru ini terlihat syuting sebuah episode acara SBS, “Running Man”. Pada 21 Februari, foto yang memperlihatkan Ha Ji Won syuting acara tersebut diposting ke sebuah komunitas online Korea dengan judul, “Ha Ji Won sedang syuting Running Man”.
Fans dapat melihat sekilas Ha Ji Won berjalan menyelesaikan misi acara ini bersama Yoo Jae Suk. Selain itu, aktris cantik ini juga terlihat melambaikan tangan kepada para penonton sebelum memulai game acara terkenal ini.
Fans yang mengantisipasi episode yang menampilkan Ha Ji Won ini meninggalkan komentar seperti, “Akhirnya Ha Ji Won ada di Running Man juga! Aku sudah tidak sabar” dan “Dia satu tim dengan The Grasshopper, Yoo Jae Suk“.
Sementara itu, Ha Ji Won sendiri bersama Lee Seung Gi akan membintangi drama terbaru MBC, ‘King 2 Hearts‘ (sebelumnya dikenal dengan sebutan, ‘The King’).

Secarik Kertas Untuk Ditulis



Aku menyusuri perbukitan yang hijau itu. Sejauh mata memandang kulihat buah stroberi berwarna merah tersenyum, menunggu untuk dipetik. Semilir angin yang begitu sejuk, meniup-niup rambutku yang dikuncir kuda. Awan yang bergerak pelan dilangit meneduhiku dari matahari yang bersinar cerah. Dari kejauhan kulihat seorang gadis kecil berambut panjang dengan bando berwarna merah dan baju kodok berteriak ke arahku. “Kak Maya! Teriaknya lalu berlari ke arahku sambil menenteng ember kecil berwarna hijau yang penuh dengan stroberi. “Kakak kapan pulang?” katanya sambil memelukku erat.
“Baru saja sampai di Jakarta, Pak le dan Bude ada?” tanyaku sambil mencubit pipinya. “ Iya, ada. Ayo ikut aku!” dia menarikku menuju rumah lama yang pernah ku tempati. “Masih sama” kataku dalam hati. Gadis itu masuk ke dalam rumah dan ketika keluar, dia sudah menarik perempuan yang sudah ku kenal.
“Maya! Ya, ampun kapan kamu pulang? Cantik banget kamu!” katanya lalu menyuruhku duduk. “Pantes aja, Ratih teriak-teriak tadi! Ternyata kamu toh!” katanya sambil tersenyum. “Oh, gitu ya bude. Maaf deh kalau aku baru datang sudah bikin repot” kataku sambil memberikan senyumku yang termanis. “Oh, ndak pa-pa kok! Kamu kesini memang sudah libur? Bapak dan Ibumu sehat-sehat saja?” sambil menyediakan beberapa toples berisi manisan dan keripik. “Iya, Bapak sama Ibu baik dan sehat bude. Kebetulan aku kesini ada tugas yang diberikan dosen! Ratih, kamu sekarang kelas berapa?” tanyaku sambil mengambil beberapa keripik balado dari toples. “Aku kelas 4 SD kak! Aku rangking satu terus loh!” katanya sambil membusungkan dada. “wah, hebat dong!” kataku lagi.
“Sudah Maya, Si Ratih memang begitu. Baru dapat rangking satu sekali saja sudah sombong!” Ratih lalu mengerucutkan bibirnya. “tuh kan ngambek? Mending kamu bawa ember yang penuh stroberi itu ke belakang supaya dijadiin keripik! Sana……” kata bude membujuk Ratih yang dikenal sebagai “Ratu Ambekan.” “Ndak, aku ndak mau!” kini Ratih berkacak pinggang. Aku tersenyum melihat tingkah pola sepupuku yang paling kecil itu. “oh, ya Bude, Pak le dimanaya?” tanyaku sambil mencari-cari. “Pak le mu lagi di kebun apel. Hari ini kebetulan sedang panen! Kamu mau kesana?” tanyanya. Aku mengangguk. “Gimana kalau aku yang anter, Kak Maya mau kan?” kata Ratih yang tersenyum senang. “Bukannya lagi ngambek?” goda Bude kembali pada anak terkecilnya itu. “Ngambeknya udah! Ayo, kak Maya biar Ratih anter!” sambil menarikku menuju kebun apel.
*******
“Masih jauh?” tanyaku. “Umm, bentar lagi!” jawabnya. Kulihat sekelilingku. “Semua masih sama. Tak ada yang berubah, hanya aku dan kenangan itu yang berubah” kataku dalam hati. Kebun apel milik Pak le memang cukup jauh. Kulihat sebelah kananku, sungai. Ya, di sungai itu dulu aku sering berenang dan bercanda dengan teman-teman juga….. “Sudah sampai! Itu Bapak Kak!” teriak ratih sambil menunjuk Pak le yang sedang sibuk menimbang apel. Aku mendudukan diriku di dangau, kembali aku teringat akan seseorang. Aku yang sering mandi disungai tadi selalu duduk di dangau tua yang sudah reyot ini untuk memandangi langit dan menulis.
“Maya!” aku langsung menoleh. “Pak le, apa kabar?” kucium tangan Pak le.
“Kapan kau datang? Kenapa tidak bilang kan bisa di jemput!” kata pak le sambil membuka topi yang dikenakannya. “Baru saja” kataku. Terlihat Pak le sangat lelah topi yang dipakai setengahnya basah oleh keringat. Ratih lalu bercerita panjang lebar tentang kedatanganku tadi.
“Kamu masih mau disini? Pak le mau pulang sebentar?” kata Pak le sambil menggendong Ratih yang ternyata sudah tertidur. “Eh, iya Pak le. Aku masih kangen sama desa ini!” kataku sambil memandang berkeliling. “Ya, sudah! Pak le pulang dulu mau antar sepupumu yang bawel ini! Kasian dia capek ngoceh mulu.” Kata Pak le. Aku lalu tersenyum mendengarnya. Ku pandangi sekali lagi desa tersebut.
“Ma… Maya ya?” ku cari siapa pemilik suara itu. Mas Radit!
“Hai, May! Bagaimana kabarmu?” kata Mas Radit. Aku diam tanpa bisa berkata. Mas Radit masih memandangku. “Boleh duduk disini?” katanya lagi. Aku berusaha memfokuskan pikiran, lalu aku mengangguk. “Kamu tambah cantik May!” kata Mas Radit memandang kosong ke depan. “terima kasih, tapi ku pikir bukan ini yang mau ku dengar!” kataku spontan. Kata-kata itu meluncur begitu saja.
“May, kamu tahu kan. Aku selalu ingin menyusulmu kesana?” kini dia menatapku. “sudahlah mas, aku tidak mau membicarakan hal itu ditempat istimewa ini!” kataku datar. “Kau tidak tahu May! Aku juga tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi? Kuliahmu lancar?” kembali dia menatapku. “tentu saja” jawabku singkat. “Kau masih suka menulis?” tanyanya lagi. Aku terdiam beberapa saat. Baru ku sadari sudah lama aku tidak menulis. “May, aku… aku berharap kau masih menulis” katanya dengan lembut. “Untuk apa? Untuk apa aku menulis?” ku sadari suaraku meninggi. “Setidaknya hanya itu yang bisa menjadi kenangan” kata Mas Radit menundukan wajah. “Apa maksudmu?” ku tatap wajahnya kini. “hanya secarik kertas yang bisa menghubungkan kita May! Walau kita…” katanya terpotong.
“CUKUP!!! Aku tidak mau mendengar lagi! Hentikan!” kini tenggorokanku berubah menjadi tegang. Airmataku terbendung. ”Aku tidak boleh menangis” kataku dalam hati. “Aku memang bersalah seharusnya ku ceritakan semua” wajah Mas Radit berubah  menjadi sendu. “Mas, mas tahu, bahwa hanya lewat menulis aku…. “ karena tidak tahan aku pun hendak berlari namun mas Radit memegang tanganku. “Aku minta maaf!” kini airmata jatuh dari mata Mas Radit. Aku benci saat ini, aku benci mas Radit yang tiba-tiba tidak menjawab surat-surat dariku yang selalu di balasnya. Aku benci saat harus melihatnya disini, menatapku dengan airmata. “Aku memang bersalah, tapi kau harus tahu satu hal, aku selalu menjawab surat-surat darimu, aku selalu menulis untuk mengobati rinduku padamu, karena hanya lewat secarik kertas yang ku tulis inilah yang dapat membuatku tetap terhubung padamu, May!” kini dia memelukku. “Lepaskan aku, jika memang begitu? Kenapa kau tidak mengirimnya, Mas? Kenapa?” teriakku tanpa sadar airmataku juga ikut meleleh. “Itu karena…” kata-kata mas Radit terpotong.
“Mas…!!!” suara seorang perempuan itu menyapa lembut. Kulihat seorang perempuan tengah hamil tua. Kini aku sadar semua. Kenapa mas Radit tidak menjawab surat-surat dariku! Kenapa dia tidak menjawab setiap ku berusaha menghubunginya melalui teman-temannya. Kini ku mengerti semua itu. Airmata mulai merambat di pelupuk mataku, aku yakin bisa memendamnya lebih lama lagi. Ku lepaskan pelukan Mas Radit dan berlari pergi. “May, dengarkan aku! Ini… ini salah paham May! Biar aku jelaskan May!” dia mengejarku. Aku berontak namun dia lebih kuat jadi aku mengikuti maunya.
“Dengarkan aku May, aku bukan ayah kandung dari bayi itu! Aku hanya disuruh… disuruh menikahinya!” kata-kata menghujamku keras. Ku tatap gadis yang hamil tersebut. Dia masih muda seumur denganku atau mungkin dibawahku. Aku pun menjadi iba. Ku beranikan diri menatap Mas Radit. “Mas Radit, jika memang benar begitu, aku memaafkanmu. Aku mengerti, jadi tetaplah menulis di kertas-kertas lain agar kita masih bisa bersama mas! Tenang saja, jagalah anak itu baik-baik juga ibunya! Kita masih bisa bersama mas! Tenang saja!” tak kuat aku lepaskan cengkraman tangan mas Radit dan berlari lagi lebih cepat agar mas Radit tidak bisa menangkapku. Hanya satu yang ku tahu. Kau tidak bisa menjadi milikku lagi mas. Kau sebaiknya bahagia bersamanya, dia lebih membutuhkanmu dibanding aku. Aku hanya percaya satu hal. Menulis, ya dengan menulis ku yakin kau dan aku masih bisa bersama lewat secarik kertas yang di tulis.

Rosmawati Sintauli Tiofanta Manalu

Justin Bieber Kalah di Grammy Awards :)

Setelah tahun ini tidak terlihat namanya di daftar pemenang Grammy Award, Justin Bieber merencanakan balas dendam. Melalui Twitternya, Bieber mengisyaratkan akan berbuat lebih untuk menebus kosongnya gelar di Grammy tahun ini."Selamat kepada semua pemenang malam ini. Aku senang melihat apa yang dilakukan teman-temanku di sana. Dan satu hal lagi. Aku dilahirkan untuk menjadi seseorang yang tidak bisa dihentikan oleh siapapun! #BELIEVE," ujar Bieber di akun Twitter pribadinya.
Tahun ini nama Bieber memang sangat jarang terlihat di papan nominasi Grammy Awards. Dari sekian banyak kategori yang ada, hanya pada kategori Best Song Written For Visual Media nama Bieber tertulis. Namun sayang Bieber juga gagal merebut piala tersebut.
Grammy Award tahun ini memang lebih banyak didominasi oleh penyanyi wanita asal Inggris, Adele. Tidak tanggung-tanggung, Adele sukses menyabet 6 piala sekaligus.
  • Justin Bieber di Pantai Malibu
  • Justin Bieber Berpose Untuk V Magazine
  • Patung Lilin Selebriti di Museum Madame Tussaud New York
  • Justin Bieber di Walt Disney Wolrd Florida